Minggu, 06 Oktober 2013

Open Ended



Open-Ended
Pendekatan Open-Ended termasuk dalam rumpun pembelajaran berbasis masalah.  Permasalahan yang diajukan dapat berupa permasalahan kontekstual atau permasalahan matematika. Menurut Becker dan Shigeru (Inprashita,2008),pendekatan Open-Ended awalnya dikembangkan oleh peneliti-peneliti Jepang dalam proyek penelitian perkembangan keterampilan tingkat tinggi dalam dunia pendidikan. Soal yang diberikan adalah masalah terbuka (Open-Ended) yang pada awalnya dipergunakan sebagai cara untuk meneliti keterampilan matematika tingkat tinggi kemudian diyakini memiliki potensi dalam meningkatkan kualitas pembelajaran.
Aspek keterbukaan dalam soal Open-Ended diklasifikasikan kedalam tiga tipe, yaitu (1)terbuka proses penyelesaiannya, yakni soal dengan beragam penyelesaian, (2) terbuka hasil akhirnya, yakni soal memiliki banyak solusi, dan (3) terbuka pengembangan lanjutannya, siswa telah menyelesaikan satu, kemudian dapat mengembangkan soal baru dengan mengubah syarat atau kondisi pada soal yang telah diselesaikan (Mahmudi,2008).
Dalam pembelajaran dengan pendekatan Open-Ended, siswa diharapkan bukan hanya mendapatkan jawaban tetapi lebih menekankan pada proses pencarian suatu jawaban. Menurut Suherman dkk (2003:124) mengemukakan bahwa dalam kegiatan matematik dan kegiatan siswa disebut terbuka jika memenuhi ketiga aspek berikut:
1.      Kegiatan siswa harus terbuka
2.      Kegiatan matematika merupakan ragam berpikir, kegiatan yang menghubungkan kehidupan nyata pada masalah matematika maupun sebaliknya.
3.      Kegiatan siswa dan kegiatan matematika merupakan suatu kesatuan, mengangkat pemahaman dalam berpikir matematika sesuai dengan kemampuan siswa.
Menurut Suherman, dkk (2003 : 129-130) mengkonstruksi dan mengembangkan masalah Open-Ended yang tepat dan baik untuk siswa dengan tingkat kemampuan yang beragam tidaklah mudah. Akan tetapi berdasarkan penelitian yang dilakukan di Jepang dalam jangka waktu yang cukup panjang, ditemukan beberapa hal yang dapat dijadikan acuan dalam mengkonstruksi masalah, antara lain sebagai berikut:
a.       Menyajikan permasalahan melalui situasi fisik yang nyata di mana konsep-konsep matematika dapat diamati dan dikaji siswa.
b.      Menyajikan soal-soal pembuktian dapat diubah sedemikian rupa sehingga siswa dapat menemukan hubungan dan sifat-sifat dari variabel dalam persoalan itu.
c.       Menyajikan bentuk-bentuk atau bangun-bangun (geometri) sehingga siswa dapat membuat suatu konjektur.
d.      Menyajikan urutan bilangan atau tabel sehingga siswa dapat menemukan aturan matematika.
e.       Memberikan beberapa contoh konkrit dalam beberapa kategori sehingga siswa bisa mengelaborasi siifat-sifat dari contoh itu untuk menemukan sifat-sifat dari contoh itu untuk menemukan sifat-sifat yang umum.
f.       Memberikan beberapa latihan serupa sehingga siswa dapat menggeneralisasai dari pekerjaannya.



1)     Dengan himpunan pasangan berurutan. Himpunan pasangan berurutan: {(Udin, bola kaki), (Udin, bola volley), (Joko, badminton), (Dayu, catur), (Siti, bola volley), (Abdi, tenis meja), (Tono, tenis meja)}.
2)      Dengan menggunakan grafik (diagram kartesius).




Menurut Sawada (dalam Aki,2000), ketika Open-Ended problems diberikan pada siswa, terdapat beberapa kelebihan yang diharapkan dalam pembelajaran :
1.      Para siswa lebih aktif dalam pembelajaran dan diberi kesempatan untuk mengungkapkan ide-ide mereka lebih sering.
2.      Siswa dapat mengeksplorasi pengetahuan yang mereka miliki.
3.      Meningkatkan kreativitas siswa.
4.      Dengan pembelajaran melalui open-ended memberi pengalaman dalam proses bernalar sehingga siswa  memperoleh pembelajaran bermakna.
Disamping keunggulan, menurut Suherman, dkk (2003;133) terdapat pula kelemahan dari pendekatan Open-Ended, diantaranya:
a.       Membuat dan menyiapkan masalah matematika yang bermakna bagi siswa bukanlah pekerjaan mudah.
b.      Mengemukakan masalah yang langsung dapat dipahami siswa sangat sulit sehingga banyak siswa yang mengalami kesulitan bagaimana merespon permasalahan yang diberikan.
c.       Siswa dengan kemampuan tinggi bisa merasa ragu atau mencemaskan jawaban mereka.
d.   Mungkin ada sebagaian siswa yang merasa bahwa kegiatan belajar mereka mereka tidak menyenangkan karena kesulitan yang mereka hadapi.


Referensi
Inprasitha, M. (2008). Open-ended Approach and Teacher Education. [Online]. Tersedia: http://www.human.tsukuba.ac.jp/~mathedu/journal/vol25/ inprasitha.pdf. Diakses 29 September 2013

Mahmudi,Ali. (2008). Menngembangkan Soal Terbuka (Open-Ended) dalam Pembelajaran Matematika.Makalah. Universitas Negeri Yogyakarta:Yogyakarta

Aki, 2000.  What is the Open-Ended Problem Solving?.(Online).
Tersedia: http://www.mste.uiuc.edu/users/aki/open_ended/WhatIsOpen-ended.htm. Diakses: 29 September 2013

Suherman, Erman. dkk. 2003. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer.
Bandung: Jurusan Pendidikan Matematika FPMIPA Universitas Pendidikan
Indonesia.



 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar