Open-Ended
Pendekatan Open-Ended termasuk dalam rumpun
pembelajaran berbasis masalah.
Permasalahan yang diajukan dapat berupa permasalahan kontekstual atau
permasalahan matematika. Menurut Becker dan Shigeru (Inprashita,2008),pendekatan
Open-Ended awalnya dikembangkan oleh
peneliti-peneliti Jepang dalam proyek penelitian perkembangan keterampilan
tingkat tinggi dalam dunia pendidikan. Soal yang diberikan adalah masalah
terbuka (Open-Ended) yang pada
awalnya dipergunakan sebagai cara untuk meneliti keterampilan matematika
tingkat tinggi kemudian diyakini memiliki potensi dalam meningkatkan kualitas
pembelajaran.
Aspek keterbukaan
dalam soal Open-Ended diklasifikasikan
kedalam tiga tipe, yaitu (1)terbuka proses penyelesaiannya, yakni soal dengan
beragam penyelesaian, (2) terbuka hasil akhirnya, yakni soal memiliki banyak
solusi, dan (3) terbuka pengembangan lanjutannya, siswa telah menyelesaikan
satu, kemudian dapat mengembangkan soal baru dengan mengubah syarat atau
kondisi pada soal yang telah diselesaikan (Mahmudi,2008).
Dalam pembelajaran
dengan pendekatan Open-Ended, siswa diharapkan bukan hanya mendapatkan
jawaban tetapi lebih menekankan pada proses pencarian suatu jawaban. Menurut
Suherman dkk (2003:124) mengemukakan bahwa dalam kegiatan matematik dan
kegiatan siswa disebut terbuka jika memenuhi ketiga aspek berikut:
1.
Kegiatan
siswa harus terbuka
2.
Kegiatan
matematika merupakan ragam berpikir, kegiatan yang menghubungkan kehidupan
nyata pada masalah matematika maupun sebaliknya.
3.
Kegiatan
siswa dan kegiatan matematika merupakan suatu kesatuan, mengangkat pemahaman
dalam berpikir matematika sesuai dengan kemampuan siswa.
Menurut Suherman, dkk (2003 : 129-130) mengkonstruksi
dan mengembangkan masalah Open-Ended yang tepat dan baik untuk siswa
dengan tingkat kemampuan yang beragam tidaklah mudah. Akan tetapi berdasarkan
penelitian yang dilakukan di Jepang dalam jangka waktu yang cukup panjang,
ditemukan beberapa hal yang dapat dijadikan acuan dalam mengkonstruksi masalah,
antara lain sebagai berikut:
a.
Menyajikan permasalahan melalui situasi fisik yang
nyata di mana konsep-konsep matematika dapat diamati dan dikaji siswa.
b.
Menyajikan soal-soal pembuktian dapat diubah
sedemikian rupa sehingga siswa dapat menemukan hubungan dan sifat-sifat dari
variabel dalam persoalan itu.
c.
Menyajikan bentuk-bentuk atau bangun-bangun (geometri)
sehingga siswa dapat membuat suatu konjektur.
d.
Menyajikan urutan bilangan atau tabel sehingga siswa
dapat menemukan aturan matematika.
e.
Memberikan beberapa contoh konkrit dalam beberapa kategori
sehingga siswa bisa mengelaborasi siifat-sifat dari contoh itu untuk menemukan
sifat-sifat dari contoh itu untuk menemukan sifat-sifat yang umum.
f.
Memberikan beberapa latihan serupa sehingga siswa
dapat menggeneralisasai dari pekerjaannya.
1)
Dengan
himpunan pasangan berurutan. Himpunan pasangan berurutan: {(Udin, bola kaki),
(Udin, bola volley), (Joko, badminton), (Dayu, catur), (Siti, bola volley),
(Abdi, tenis meja), (Tono, tenis meja)}.
2)
Dengan
menggunakan grafik (diagram kartesius).
Menurut Sawada (dalam
Aki,2000), ketika Open-Ended problems
diberikan pada siswa, terdapat beberapa kelebihan yang diharapkan dalam
pembelajaran :
1.
Para
siswa lebih aktif dalam pembelajaran dan diberi kesempatan untuk mengungkapkan
ide-ide mereka lebih sering.
2.
Siswa
dapat mengeksplorasi pengetahuan yang mereka miliki.
3.
Meningkatkan
kreativitas siswa.
4.
Dengan
pembelajaran melalui open-ended memberi pengalaman dalam proses bernalar
sehingga siswa memperoleh pembelajaran
bermakna.
Disamping keunggulan, menurut
Suherman, dkk (2003;133) terdapat pula kelemahan dari pendekatan Open-Ended,
diantaranya:
a. Membuat dan menyiapkan masalah matematika yang
bermakna bagi siswa bukanlah pekerjaan mudah.
b. Mengemukakan masalah yang langsung dapat dipahami
siswa sangat sulit sehingga banyak siswa yang mengalami kesulitan bagaimana
merespon permasalahan yang diberikan.
c. Siswa dengan kemampuan tinggi bisa merasa ragu atau
mencemaskan jawaban mereka.
d. Mungkin ada sebagaian siswa yang merasa bahwa kegiatan
belajar mereka mereka tidak menyenangkan karena kesulitan yang mereka hadapi.
Referensi
Inprasitha, M. (2008). Open-ended
Approach and Teacher Education. [Online]. Tersedia:
http://www.human.tsukuba.ac.jp/~mathedu/journal/vol25/ inprasitha.pdf. Diakses
29 September 2013
Mahmudi,Ali. (2008). Menngembangkan
Soal Terbuka (Open-Ended) dalam Pembelajaran
Matematika.Makalah. Universitas Negeri Yogyakarta:Yogyakarta
Aki, 2000. What is the Open-Ended Problem
Solving?.(Online).
Tersedia:
http://www.mste.uiuc.edu/users/aki/open_ended/WhatIsOpen-ended.htm. Diakses: 29
September 2013
Suherman, Erman. dkk. 2003. Strategi
Pembelajaran Matematika Kontemporer.
Bandung: Jurusan Pendidikan
Matematika FPMIPA Universitas Pendidikan
Indonesia.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar